Napak Tilas

Makna Kirab Pusaka Desa Pengkol dan Desa kedungpoh

Retnamudiasih.com – Kirab pusaka yang dilaksanakan oleh masyarakat merupakan salah satu bentuk pelestarian atau melestarikan budaya yang dulu sudah pernah dilakukan oleh leluhur di jaman dulu.Seperti kirab pusaka yang dilakukan 2 desa ini, yaitu Desa Pengkol dan Desa kedungpoh, merupakan upaya menggali kembali ajaran budaya yang diwariskan oleh ki Ageng Damarjati atau Sunan Tremboyo pada jamannya pada saat itu.

kirab-pusaka-satu-suroan-desa-kedung-puh-gunung-kidul
Beberapa pusaka warga

Pada jaman itu Ki Ageng Damarjati atau Sunan Tremboyo melakukan kirab pusakan yang dimulai dari Dusun Pengkol saat ini, kemudian memutari (saat ini) dusun, desa, atau kecamatan, dengan tujuan untuk menghilangkan sukerto, balak malapetaka atau energi-energi negative yang berada di dusun, desa atau kecamatan tersebut.

Selama melakukan kirab pusaka para peserta kirab sambil berdoa memohon kepada Allah swt, supaya dusun, Desa atau se-kecamatan menjadi ayom ayem, tentrem, gemah rimah loh jinawi dijauhkan dari sukerto, balak malapetaka atau energi-energi negatif.

Kenapa musti membawa wesi aji atau pusaka? karena wesi aji atau pusaka baik berupa tombak atau keris itu sendiri sudah mengandung energy bermacama-macam tergantung empu yang menciptakan pusaka pada saat itu,bisa kita lihat dari pamor dari wesi aji atau pusaka tersebut,ditambah dengan doa
yang dibaca dalam hati oleh sipembawa pusaka.


Itulah cara yang dilakukan oleh para leluhur untuk meruwat bumi menghilangkan sukerto diwilayahnya, karena pada jamannya susah untuk melakukan semacam istigosah kubro seperti pada saat ini. Dengan tertimbunnya berlapis-lapis jaman, maka tradisi kirab pusaka yang dilakukan oleh ki Ageng Damarjati atau sunan Tremboyo hilang ditelan masa.

Dusun pengkol mulai menggali adat tradisi warisan leluhur yang sudah ratusan tahun terpendam yaitu kirab pusaka yang di ikuti Desa pengkol dan kedungpoh dalam kerangka untuk melestarikan budaya warisan leluhur. Kirab pusaka dilakukan mulai dari Dusun pengkol sentral pemberangkatan berjalan melingkar memutari 2 dusun di antara 2 desa, menuju Dusun kedongpoh kidul sebagai penerima pusaka utama yang dikirab.

Baca Juga  Jembatan Duwet Kulon Progo, Jembatan Peninggalan Pemerintah Belanda Dari Masa Ke Masa

Kemudian dilanjutkan menuju pesarean Ki Ageng Damarjati atau Sunan Tremboyo sebagai sesepuh pencetus adanya kirab pusaka di wilayah pegunungan seribu pada waktu itu, yang sekarang Gunung kidul.

kirab-pusaka-satu-suroan-desa-kedung-poh-gunung-kidul

Tujuan lain melakukan kirab pusaka selain menghilangkan sukerto dan balak? Kirab pusaka tujuan akhir dipusatkan di pesarean Agung Ki Ageng Damarjati atau sunan tremboyo dengan tujuan selain mendoakan beliau juga menuakan (nyepuhke), wesi aji atau pusaka yang dibawa ke tempat ki Ageng Damarjati atau sunan tremboyo, dengan harapan dengan wasilah beliau masyarakat yang mengikuti bisa mendapatkan barokah-Nya, atas ijin dan ridho dari Allah SWT.

Simbol utama dalam kirab pusaka dusun pengkol, kec.Nglipar,Kab.Gunungkidul, DIY
Pusaka utama yang dikirab :
1.Payung Agung
2.Tombak Korowelang
3.Cemethi Pamuk

Dan diikuti oleh pusaka-pusaka masyarakat dari mamnapun yang jumlahnya ratusan hingga ribuan tergantung antusiasme dan partisipasi masyarakat.

Kirab-Pusaka-Desa-Pengkol-gunung-kidul

Kirab-Pusaka-Desa-Pengkol

1.Payung Agung
Menggambarkan pengayoman untuk memayungim masyarakat luas supaya merasa ayom, ayem, tentrem kerto raharjo

2.Tombak Korowelang, yang dilenggahi Kyai Umbul Katon
Umbul yaitu Sumber air atau mata air, menggambarkan kehidupan supaya subur makmur gemah ripah loh jinawi, murah sandang pangan dan papan.

Katon yaitu kelihatan, menggambarkan cita-cita, ide, harapan, atau “penggayuhan” supaya bisa terkabul, berhasil dan nyata (kelihatan)

3.Cemethi Pamuk, yang dilenggahi Kyai Landung atau Kyai Danumoyo
Landung yaitu longgar atau panjang, menggambarakan supaya panjang umurnya,panjang pemikirannya,panjang/longgar rejekinya,panjang drajat pangkatnya,berwibawa, dihormati dan disegani oleh orang lain.

Danumoyo yaitu cahaya yang gemerlap yang tidak tampak, menggambarkan harapan supaya ada aura yang terang menyinari bumi atau diri pribadi.


Tagged

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *