Review Buku

Review Buku & Quote : Rumah Kaca By Pramoedya Ananta Toer

Retnamudiasih.com – Rumah Kaca (1988) adalah buku terakhir dari tetralogi Buru. Pada bagian ini diambil sudut pandang yang sama sekali tidak terduga dari tiga cerita sebelumnya. Jika kita masih ingat kisah menegangkan di akhir cerita Jejak Langkah; setelah terjadi peristiwa penembakan Robert Suurhof gembong preman De Zweep yang kerap mengganggu aktivitas politik Minke yang ternyata dilakukan atas rencana istrinya sendiri–Prinses van Kasurita dari Maluku yang digambarkan sebagai perempuan yang sangat pemberani–tanpa sepengetahuan Minke itu taklain hanyalah sebuah rencana di balik rencana seorang petinggi polisi Belanda dari Ambon, Pangemanann dengan dua n, untuk menjebak Minke.

Judul Buku: Rumah Kaca
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantera
Tebal Buku: 646 Halaman
Harga Buku: Rp.95.000,- Hemat Rp. 87.500,-


Sinopsis “Rumah Kaca” oleh  Pramoedya Ananta Toer
Tetralogi ini dibagi dalam format empat buku, pembagian ini bisa juga kita artikan sebagai pembelahan pergerakan yang hadir dalam beberapa periode. Dan roman keempat, Rumah Kaca, memperlihatkan usaha kolonial memukul semua kegiatan kaum pergerakan dalam sebuah operasi pengarsipan yang rapi. Arsip adalah mata radar Hindia yang ditaruh di mana-mana untuk merekam apa pun yang digiatkan aktivis pergerakan itu, Pram dengan cerdas mengistilahkan politik arsip itu sebagai kegiatan per-rumahkacaa-an.

Novel besar berbahasa Indonesia yang menguras energi pengarangnya untuk menamilkan embrio Indonesia dalam ragangan negeri kolonial. Sebuah karya pasakolonial paling bergengsi.

Tetralogi Buru:

Bumi Manusia
Anak Semua Bangsa
Jejak Langkah
Rumah Kaca
Quote “Rumah Kaca” oleh  Pramoedya Ananta Toer
Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya. – hal 62

Orang menjadi besar karena tindakannya yang besar, pikirannya besar, jiwanya besar. – hal. 313

Baca Juga  Review Buku & Quote : 13 Wasiat Terlarang! Dahsyat dengan Otak Kanan by Ippho Santosa

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. – hal. 473

Jangan bikin mereka jadi lebih kaya dan lebih berkuasa karena keringatmu. Rebut ilmu-pengetahuan dari mereka sampai kau sama pandai dengan mereka. Pergunakan ilmumu itu kemudian untuk menuntun bangsamu ke luar dari kegelapan yang tiada habis-habisnya ini. – hal. 340

Apa Tuan-tuan kira petani buta huruf yang hanya dapat mencangkul itu tidak mencampuri politik? Begitu ia menyerahkan sebagian hasilnya yang kecil itu kepada pemerintahan desa sebagai pajak, ia sudah berpolitik, karena ia membenarkan dan mengakui kekuasaan Gubermen. – hal. 562

Dan selama masih ada yang diperintah dan memerintah, dikuasai an menguasai, orang berpolitik. Selama orang berada di tengah-tengah masyarakat, betapapun kecil masyarakat itu, ia berorganisasi. – hal. 563

Kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang, karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka kemajuan sebagai kata dan makna sepatutnya dihapus dari kamus umat manusia. – hal 585


Tagged , , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *